
Just like how unique the theme of this manga is, at first it seems unlikely for this manga to be written by the Hiromu Arakawa who also penned Fullmetal Alchemist. I always get a sense of deeper humanity potential in Fullmetal Alchemist, but it was not after I read Silver Spoon I finally get the full taste of what this mangaka is capable of doing.
Set in an agricultural high school, Silver Spoon tells the story of Yugo Hachiken. A guy who has a quite different motivation compared to other students in his school. Instead of enrolling there out of passion he enrolled there because he is unsure of what to do with his life and want to get away from his parents. Unlike any other mangas, who usually portrays this kind of character as being not too smart, Hachiken is actually a really bright, dilligent, and serious student. But he cannot take the comparison and competition with his brother that made it to Tokyo University.
Other than the family drama, this manga is quite detailed and focused on its agricultural setting. Compared to other manga with farm/agriculture setting that I've read (i.e. Grooming Up). The details comes both in scientific explanation and both emotional description of what might be going through when you are working/living in a farm.
One of the most memorable story so far, is how Yugo struggle with how they eat things they take care of and taking lives of other living creature in general. It is interesting how deep he thinks about it and then come to a decision to honor the life of the lifestock by keeping on eating and making great food out of it instead.
I think it was clever for the author that he chose the character as a normal/outside person with such a specific theme. It made it easier for the reader to relate to what's going on in Hachiken's head when he learns and trying to adapt with the agriculture/farming society.
It might not be a straightforward food manga. But without fancy recipes nor cooking techniques it manages to make me see deeper than what's on the plate, but more of how and where it came from.
_____________________________________________________________________________
Bila sebelumnya manga-manga yang gw ulas selama marathon ulasan ini berkaitan langsung dengan makanan dan masak-memasak, manga kali ini mungkin tidak sejelas itu terlihat keterikatannya dengan dunia tersebut. Karena jika dibandingkan dengan manga lain yang lebih berfokus pada 'produk akhir', manga yang satu ini lebih berfokus pada 'bahan mentah'. Lebih dari itu, manga ini sangat detail membahas proses penghasilan bahan mentah tersebut alias agrikultur lebih dalam dari manga-manga lainnya.
Sebagaimana uniknya tema dari manga ini, rasanya semakin aneh ketika gw menyadari bahwa pengarangnya adalah orang yang juga menelurkan Fullmetal Alchemist, Hiromu Arakawa. Di Fullmetal Alchemist memang gw selalu mendapatkan kilasan-kilasan nilai kemanusiaan yang cukup dalam kisahnya, namun baru setelah gw membaca Silver Spoon baru gw menyadari sehebat apa kemampuannya dalam mendalami kehidupan dan emosi manusia.
Berlokasi di sebuah SMK Pertanian/Peternakan, Silver Spoon mengisahkan cerita Yugo Hachiken. Seorang siswa yang masuk ke sekolah tersebut dengan motivasi yang agak berbeda jika dibanding dengan siswa lainnya. Dia sekedar masuk ke SMK tersebut karena tidak yakin dengan masa depannya dan untuk kabur dari orang tuanya. Berbeda dengab manga-manga lain yang biasanya menggambarkan karakter semacam ini sebagai tokoh yang tidak terlalu pandai, Hachiken justru adalah anak yang tekun, serius, dan pintar. Namun dia tidak mau terus-terusan dibanding-bandingkan dan merasa tidak akan pernah menanf dari kakaknya yang berhasil masuk ke universitas Tokyo.
Selain masalah keluarga, manga ini cukup detail dan fokus terhadap tema yang dipilihnya. Dibandingkan dengan manga bersetting peternakan/pertanian lainnya yang pernah gw baca (i.e. Grooming Up). Detail setting tadi banyak dimunculkan dalam penjelasan ilmiah maupun deskripsi emosional tentang apa yang terjadi ketika seseorang menjalano kehidupan di peternakan.
Satu kisah yang paling berkesan sejauh ini adalah bagaiman Hachiken berjuang untuk bisa membiasakan diri memakan hewan yang mereka besarkan dan juga mengambil nyawa makhluk lain pada umumnya. Membaca seberapa dalam dia berfikir dan serius terhadap masalah ini sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan untuk menghargai nyawa dengan mengolahnya dengan baik.
Salah satu pilihan cerdas yang diambil oleh mangaka-nya adalah menjadikan Hachiken yang notabene orang luar/awam sebagai tokoh utama di kisah dengan tema sespesifik ini. Hal tersebut membuat pembaca lebih mudah untuk berempati dengan apa yang Hachiken rasakan ketika dia belajar dan berusaha beradaptasi dengan komunitas peternakan/agrikultur.
Sekali lagi, mungkin ini bukan manga yang jelas-jelas dapat dikategorikan ke dalam manga masakan. Tapi tanpa resep yang mewah ataupun teknik memasak super, manga ini berhasil membuat gw untuk melihat lebih dalam daripada sekedar apa yang dihidangkan di atas piring dan juga bagaimana dan darimana mereka berasal.
No comments:
Post a Comment