After my last post, i promised i would review a girl's manga after reviewing shonen all this time, unfortunately that post will still have to wait XD
Well it's not like Twin Spica is either one anyway. You can consider it as a shoujo manga since it has a female lead, somehow cute characters, high school friendship, love triangles, etc. But on the other hand the romance and the dramatization it has felt more like it was based on a guy's perspective.
I always have a soft spot for mangas with space/astronaut theme especially ones with a reallistic approach, from Planetes to now Twin Spica. If Planetes has a more distant future in which our existence outside earth has been fully established, then the setting in Twin Spica is set at an earlier era. Where space is still a dream, not much different than our world now.
Twin Spica told the story of a literally little girl with a huge dream of being an astronaut. Lots of drama here and there since the tragic back story tells about an spaceship crash which caused many dies including her mother and moreover a lot of people's dreams.
Here i won't review much about the story but more of a scene in the 10th volume published by Elex Media.

The dialogue between Asumi (the lead) and her imaginary/ghost-astronaut-friend Lion was really inspiring. It just made a lot of sense and made me realized a lot of things. Unlike little Miss Kamogawa, I was never focused enough and always has a 'plan b' or a reroute track in mind in case things do not work out.
Well i think a lot of humans do, since adaptation and fight or flight sense is embedded in our system for survival. Unfortunately those notions can be translated to compromising our dreams, compromising with life, or even worse giving up.
It took me this 3 pages scene to realize how much i've been compromising in my life and how i never really focused and committed with my goals. Basically it is the cause of most unsatisfaction since it makes me feel as if i never achieve anything great. At least not great enough to be considered as dreams.
On the other hand, it is very unreallistic not to compromise. Since we do not life alone in this planet. Everyone has a say in our life and how we life it. Everything is connected and any thing we do may affect others. But still people need big dreams to look forward to. At least it will give you hope.
As an old proverb said dream high, aim for the moon if you fall at least you will fall among the stars
(even if it is wrong since stars are further than moon...).
So now, without putting any compromise in the equation, what is my dream?
What is yours?
___________________________________________________________________________________
Di postingan gw yang terakhir, gw sempet janji untuk mereview manga cewe/shoujo setelah selama ini selalu mereview komik cowok/shonen/seinen. Sayangnya, membuktikan apa yang nanti akan gw elaborasi lebih lanjut, gw ga bisa komit dengan janji itu XD
Yah, Twin Spica sendiri tidak sebenarnya tidak bisa diklasifikasikan menjadi salah 1 genre begitu saja. Manga ini bisa dianggap sebagai shoujo karena tokoh utamanya yang perempuan, desainnya yang tergolong cukup imut, kisah persahabatan dan cinta segitiganya, dll. Namun di sisi lain romansa dan dramatisasi yang ada di manga ini terasa didasarkan pada lebih didasarkan pada perspektif pria secara penulisnya pun pria yang berdasar manga stripnya cukup sensitif dan melankolis.
Gw memang selalu punya soft spot untuk manga-manga dengan tema-tema ruang angkasa atau tokoh-tokoh astronot, terutama yang punya sens slice of life dan terasa nyata, seperti Planetes dan Twin Spica.Bila setting Planetes lebih ke arah masa depan yang benar-benar masih di masa depan ketika manusia sudah berhasil membentuk koloni di luar angkasa, setting yang digunakan dalam Twin Spica terasa seperti prekuelnya. Ketika ruang angkasa masih sebatas angan-angan, dan tidak terlalu berbeda dengan kondisi kita sekarang.
Twin Spica mengisahkan cerita tentang seorang gadis kecil (secara ukuran) dengan mimpi yang besar yakni ingin menjadi seorang astronot. Kisah ini penuh dengan drama karena dilatarbelakangi oleh tragedi kecelakaan pesawat luar angkasa yang menewaskan banyak orang termasuk ibunya dan juga mimpi banyak orang.
Di sini gw tidak akan mengulas terlalu banyak tentang ceritanya namun akan lebih berfokus pada sebuah adegan di jilid 10 Twin Spica yang diterbitkan oleh Elex Media.
Dialog antara Asumi (tokoh utama) dengan sahabat khayal/hantu astronot Lion sangat inspiratif. Dialog ini membuat gw sadar akan banyak hal. Tidak seperti nona Kamogawa yang mungil, gw tidak pernah sefokus itu dan selalu punya 'rencana lain' atau 'jalur pindah haluan' di otak gw sekiranya mimpi-mimpi gw tidak berjalan dengan baik.
Yah, sepertinya hampir semua manusia seperti itu deh, karena pada dasarnya kemampuan adaptasi dan sens untuk 'menghadapi atau menghindar' sudah terprogram dalam sistem kita agar kita bisa tetap survive. Sayangnya kadang-kadang kemampuan ini bisa mengakibatkan kita terlalu berkompromi dalam mencapai impian, berkompromi dalam mencapai mimpi, dan bahkan lebih parah menyerah sebelum mencoba.
Butuh adegan 2 halaman ini bagi gw untuk menyadari seberapa banyak gw sudah berkompromi dan betapa gw tidak pernah benar-benar fokus dan memegang komitmen untuk mencapai cita-cita. Sebenarnya mungkin inilah alasan dari berbagai ketidakpuasan karena tanpa mencoba atau mencoba asal-asalan bikin gw merasa seolah gw tidak pernah mencapai tujuan gw. Paling tidak apa yang gw capai bukan sesuatu yang sebegitu keren/besarnya sampai bisa dianggap sebagai impian.
Di sisi lain, tidak realistis juga untuk tidak berkompromi sama sekali. Secara kita tidak hidup sendirian di planet ini, semua orang bebas berpendapat dan mempengaruhi hidup kita dan bagaimana kita menjalani hidup. Semuanya terhubung dan hal sekecil apapun yang kita lakukan juga bisa mempengaruhi orang lain. Namun, manusia butuh mimpi yang besar untuk bisa berpandangan ke depan. Paling tidak impian bisa memberikan harapan.
Sebagaimana kata pepatah, bermimpilah setinggi-tingginya, sasarlah bulan, setidaknya bila terjatuh, kamu akan terjatuh di antara bintang...
(walaupun sebenarnya pepatah ini salah karena bintang itu lebih jauh dari pada bulan -_-;)
Jadi sekarang, tanpa mempertimbangkan kompromi, apa ya impian gw?
Apa impianmu?
(manga pages are scanned from my personal collection of the Indonesian version of Twin Spica & used for personal use only)



No comments:
Post a Comment