Tuesday, November 4, 2014

(Post) Halloween Manga-ka Review : Chie Watari

Okay, somehow, I decide not to let this event pass without reviewing any horror manga. Among other scary mangas that haunts my childhood (even until now) there are mangas written by Chie Watari. Well maybe if her mangas are being compared to full fledged horror manga like Spiral (which gives a whole new standard to the definition of scary for me), it does not feel as if its that scary. But i still consider her manga as the scariest when compared to other horror manga with shoujo vibes such as mangas by Yoko Matsumoto.

And just as it happens, one of her manga was neatly titled Halloween. I can still remember how scary it was, and still I can't put it down or stop re-reading it again and again. To be honest, I'm not the bravest kid back then and even now. But her mangas has this scary-yet-addictive quality that always get me hooked.

Her manga, particularly Halloween, is a good example of the classic shoujo horror stuff. We have this 'thing' that is haunted, a tragic backstory on how that thing became haunted, a damsel in distress which turn out to be tougher than she looks, and some kind of exorcist hero that save the day. Which is the same pattern that are used in most shoujo horror mangas.

One other thing that I like about her mangas are that they are usually one shots, so the story naturally is always quite fast paced unlike some other horror themed which usually can build up its scary background in more than one volume. Those kind  can be a bit drag sometime especially when one volume to another has a huge publishing time gap. For example just like what happen with Ghost Hunt, it's just hard for me to memorize what happened before because it is so slow paced and one volume to another sometimes has years gap -_-.

In terms of illustration she also has the right amount of realism, which most shoujo mangas usually are lacking because they tend to beautify things. Her mangas has just the right amount of beauty as it does with scary stuff. The startled look which is a must in a horror manga is the kind of example for this.

Based on bakamanga updates it seems that she still writes horror manga, though there's nothing new published here in Indonesia and there is not much information about Chie Watari on the internet. Hopefully someday they will decide to publish her new works here.

 
__________________________________________________________________________________

Baiklah, sepertinya sayang untuk melewatkan event Halloween ini lewat tanpa mengulas komik horror. Di antara manga-manga horror yang dulu menghantui masa kecil gw (bahkan sampai sekarang) ada manga besutan Chie Watari. Yah, mungkin bila manga karangannya dibandingkan dengan manga yang murni horror seperti Spiral (yang meredefinisi standar 'seram' buat gw), manga karangannya tidak terlalu seram. Namun gw tetap menganggap manga karangannya sebagai yang terseram jika dibandingkan dengan manga-manga horror lain yang beratmosfir shoujo seperti manga-manga karangan Yoko Matsumoto.

Dan kebetulan sekali, salah satu manga karangannya berjudul Halloween. Gw masih inget betapa seramnya manga itu, namun gw tetap ga bisa berhenti membacanya berulang-ulang. Sejujurnya, gw bukan anak yang paling berani dulu, bahkan sampai sekarang. Tapi manga karangannya memiliki kualitas seram-tapi-nagih yang selalu membuat gw gabisa berhenti membaca.

Manga karangannya, terutama Halloween, adalah contoh yang baik untuk genre shoujo horror klasik. Ada 'benda' yang dihantui, ada latar cerita tragis di balik benda tersebut, ada protagonis wanita malang yang ternyata lebih tegar dari kelihatannya, dan seorang pahlawan/pengusir hantu yang menyelamatkan hari. Pola ini merupakan pola dasar yang digunakan di kebanyakan komik horror shoujo.

Satu hal lagi yang gw suka dari manga-manga Chie Watari adalah fakta bahwa kebanyakan manganya bersifat one shot, jadi temponya selalu terasa cukup cepat jika dibandingkan dengan komik horror berseri yang bisa membangun suasana seramnya di lebih dari satu jilid manga. Manga seperti itu bisa menjadi sedikit menjemukkan dan terasa anti klimaks, apalagi ketika jeda antara jilid yang satu dan jilid yang lain cukup lama. Contohnya apa yang terjadi dengan manga Ghost Hunt, susah buat gw untuk mengingat apa yang terjadi di volume sebelumnya karena ritmenya yang lambat dan waktu terbit dari satu volume ke volume selanjutnya bisa memakan waktu tahunan.

Dalam hal ilustrasi, manga-manga buatan Chie Watari juga terasa lebih nyata, hal yang jarang ditemukan di manga-manga shoujo yang cenderung 'mempercantik'. Manga buatannya memiliki kadar seram dan cantik yang pas. Wajah terkejut/takut para tokohnya merupakan contoh yang pas untuk menggambarkan opini gw ini. 

Berdasar info di Bakamanga Update sepertinya dia masih menulis manga-manga horror, sayangnya sudah cukup lama tidak ada manga baru yang diterbitkan di Indonesia. Bahkan tidak terlalu banyak informasi tentang Chie Watari di internet. Mudah-mudahan suatu hari nanti manga barunya dapat diterbitkan lagi di Indonesia.








 

Sunday, October 12, 2014

7th Course: Delicious Days With Martha - a delicious slice of life



After a full week of reviewing mangas with extraordinary recipe, settings, or cooking skills, now it's time to close up our Fall Appetite manga review marathon with something light but still could make us feel content and of course full with delicious recipes.

At first I was a bit unsure of this manga, because its synopsis said it is just a tale about a broke Portuguese student named Martha who live in Japan and loves to eat great food. Apparently eventhough the synopsis is right, there is much more to read in this humble unprentious manga.

It definitely start slow, with a slice of life manga kind of approach. It even remindes me of Yotsuba with its story that has mundane everyday reality feel, yet with the right amount of something extra to make it still interesting.

I even feel like Martha totally fit a more mature Yotsuba. She is humble, down to earth, full of curiosity and have the same enjoy everything atittude. With so little she manages to make the most of it.

The same goes with the food that she cook. It is mostly unpretentious heartly home cooked meal. Even with its Portuguese inspired cooking, the recipes does not feel like it was ripped of from some fancy restaurant page, but feel more like comfort home cooked recipes.

Another thing that get me hooked with this manga is even with a foreigner as the main character it still full of Japanese culture trivias. Even more, since Martha is a foreigner that fell in love with Japan, it is easy to relate with her and fell in love with the same thing that she loves.

So far, based on the google search i've done to get more info about this manga, there is not show much clue about how well this manga is going or even how far will it go. I hope my review could help promote it a bit since i have high hopes and really enjoy this delicious comforting manga.

_____________________________________________

 Setelah seminggu penuh gw membahas manga dengan resep-resep dan teknik memasak yang super canggih, sekarang waktunya kita untuk menutup minggu marathon komik nafsu makan musim gugur dengan sesuatu yang ringan tapi tetap bisa membuat kita merasa kenyang dan pastinya tetap penuh dengan resep-resep yang enak.

Awalnya gw agak ragu untuk membeli manga ini karena sinopsisnya yang kurang menjual dengan penjelasan singkat bahwa manga ini berkisah tentang Martha seorang pelajar Portugis miskin yang tinggal di Jepang dan sangat suka makanan enak. Tapi ternyata manganya sendiri jauh lebih menarik dengan kisah yang sederhana dan tidak berlebiha.

Alur kisahnya cukup lambat, dengan pendekatan gaya manga slife of life. Bahkan gaya penceritaannya cukup mengingatkan gw pada Yotsuba karena kisahnya yang penuh dengan hal-hal keseharian yang normal, namun tetap dengan sesuatu ekatra dengan dosis yang tepat untuk membuatnya tetap menarik.

Gw bahkan merasa bahwa Martha itu seperti versi dewasa dari Yotsuba. Dengan kesederhanaan, keceriaan, rasa keingintahuannya dan juga sikap menikmati segalanya seperti Yotsuba. Dengan segala keterbatasannya dia berhasil tetap memaksimalkan keadaan.

Begitu juga dengan makanan yang dia masak. Kebanyakan adalah masakan rumahan yang sederhana dan dimasak dengan penuh perasaan. Bahkan dengan pengaruh masakan Portugis, resep-resepnya tidak seperti diambil dari menu restoran mewah melainkan seperti masakan dengan cita rasa rumahan.

Hal lain yang membuat gw sangat menikmati manga ini adalah walaupun tokoh utamanya adalah orang asing, tapi kisahnya penuh dengan pengetahuan tentang budaya jepang. Justru karena Martha adalah orang asing yang jatuh cinta pada budaya Jepang, lebih mudah untuk berempati dan melihat dunia dengan sudut pandangnya.

Sejauh ini, berdasar pencarian Google yang gw lakukan untuk mendapatkan info lebig tentanf manga ini, tidak ada terlalu banyak petunjuk tentang bagaimana respon atas manga ini maupun kelanjutan kisahnya. Gw harap ulasan ini bisa membantu mempromosikan manga ini sedikit karena gw sangat menikmati manga ini dan berharap bisa terus membaca kisahnya yang membumi, nyaman, namun tetap menarik dan lezat.


Saturday, October 11, 2014

6th Course: Yakitate Ja-Pan! Japan's Kind of Bread

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9gZh3sw6aUF83OjIFadvZ3WKCENkF2bcL88cMGlA_osUaW1hwr47J9bMxhp9xd1fbMvUo-R8-_JWQRoP9IlGo8G5oBQmiknkfdrCIJu-UpDqkZN2XNMoCbo7Rpqempjwr7mzN8EEpdFF5/s1600/yakitatejapan_a.jpg

Sixth course already, whoa i did not think that i'm gonna make it this far XD to celebrate it let's review something sweet and fun.

Yakitate Japan is one of the funniest manga that i have ever read. And i mean this in general, not only compared to other food manga. Afterall what can you expect from a cooking manga whose main character gifted with solar hands so it can made the bread that he made cooked better? Apparently his bread tastes so heavenly that in one of the episode it send one of the cooking judge to heaven (literaly) and back.

The super crazy expressions that the judges in this manga get after tasting the breads is like a mixture of Mr. Ajikko (Born to Cook) over the top expression added with a visual and literal depiction of the over the top description they got in Drops of God. Also this manga loves its puns and parodies. It never afraid to, again literaly, parodies other manga characters such as Conan Edogawa from Detective Conan.

On the other hand, its breads are no joke and as or even more creative than its parodies. The breads that this manga made is so accurate that they can even massively produces and sells it in stores in Japan, in the real world.

Another great thing about this manga is that eventhough it is about bread, which is not originally came from Japan, they still manage to show originality by using local unique ingredients.

This manga has such high nationalism even that even as its stated in the beginning of the manga, its ultimate goal is to create the perfect bread for Japan that can even go well with Japanese meal and can subsitute rice as its food staple.

With such serious and ambitious goal, the way it tells its story with super awesome humors is just successfully created the perfect balance. My only problem with this manga is just with many competitons and side stories the Ja-pan goal felt a bit forgotten. But somehow the humors manage to cover its lack of clear plotline in the end and still finishes it delightfuly.

_____________________________________________

Sudah sampai ulasan ke-6? Wew, gw ga nyangka bisa nulis sampai sebanyak ini dalam seminggu XD untuk perayaam mari kita membahas sesuatu yang manis dan menyenangkan.

Yakitate Japan adalah salah satu manga terlucu yang pernah gw baca. Dan yang gw maksud dengan pernah gw baca disini adalah secara umum, tidak cuma dibandingkan dengan manga-manga masakan lainnya. Lagipula bagaimana lagi gw bisa menilai sebuah manga yang tokoh utamanya memiliki tangan matahari yang bisa membuat roti terasa lebih enak? Bahkan saking enaknya sampai bisa membuat salah seorang juri masakan yang memakannya pergi ke surga dan kembali lagi?

Ekspresi super gila yang dibuat para juri di manga ini setelah merasakan enaknya roti yang dibuat seperti campuran dari ekspresi berlebihan Ajiou di Mr. Ajikko (Born to Cook)  ditambah penggambaran visual dan terjemahan langsung dari deskripsi berlebihan yang disebut-sebut di Drops of God. Manga ini juga sangat baik memanfaatkan parodi. Dia tidak takut untuk secara terang-terangan memparodikan karakter-karakter manga terkenal lain seperti misalnya Conan Edogawa dari  komik Detektif Conan.

Di sisi lain, roti-roti yang dibuatnya cukup serius dan bahkan mungkin sama atau bahkan lebih kreatif daripada parodinya. Roti-roti yang dimunculkan di manga ini sangat akurat sampai mereka bahkan bisa benar-benar diproduksi secara massal dan dijual di toko-toko di Jepang.

Satu lagi keunggulan komik ini adalah walaupun kisahnya tentang roti yang aslinya bukan dari Jepang, tapi mereka tetap bisa menunjukkan originalitasnya dengan menggunakan bahan makanan lokal yang unik.

Nasionalisme manga ini sangat tinggi bahkan di awal cerita dikatakan bahwa tujuan akhir yang ingin dicapainya adalah menciptakan roti yang sempurna untum orang Jepang yang bahkan bisa tetap enak dan cocok untuk dimakan dengan lauk tradisional Jepang juga bisa menggantikan nasi sebagai makanan pokok mereka.

Dengan tujuan yang sebegitu serius dan ambisius, pilihan untuk mengemas manga ini dengan humor merupakan pilihan yang tepag dan sukses menciptakan kisah yang seimbang. Sayangnya setelah banyak mengisahkan kompetisi dan kisah-kisah sampingan, tujuan tersebut agak terkesampingkan. Tapi humor di manga ini berhasil membuat kekurangan tersebut termaafkan dan tetap berhasil menyelesaikan kisahnya dengan manis.



Friday, October 10, 2014

5th Course: Drops of God - Wine 101, Drink Without Getting Drunk


After reviewing about food, cooking, and even the ingredient over the past four reviews, now is the appropriate time to washed it down with something refreshing.



http://goodereader.s3.amazonaws.com/blog/uploads/images/Drops-of-God-promo.jpg

There's not really that much manga that focuses on drinks. Well, so far I've only ever read two. There's Barista for coffee, and then there's Drops of God for wine.

Written by Tadashi Agi and drawn by Shu Okimoto, this manga is a mix of family drama, passion, competition, persistence, journey, and of course wine. Actually I have never drink any wine before, but I do know that it might be not as extravagant as how they depicted it in this manga. Well, at least you won't get the visual of men from many times building a Gaudi masterpiece when you sip one (yeah it's one of the description they put for one of the wine).

The story starts when a famous wine critique, Kanzaki Yutaka died and in his will he put his heirs to a test/competition before they can inherit all of his estates including a wine cellar with a very comprehensive and valuable collection. They have to blindly guessed based on description only the 12 most valuable wine in his collection which are called the 12 Apostles. The competition is between his estranged only child Kanzaki Shizuku which is currently works in a beer company and another famous critique Tomine Issei.

As far as I have read (about 20 volumes from the total 44 volumes) it seems like there is a much bigger meaning behind the tests that Kanzaki Yutaka put. Most of the challenges focused on a certain phase in a human life, in his life to be precise. This is what makes his son, who at first feels really hesitant to join the competition finally willing to join the test into get a better understanding on his late father and his passion for wine.

The technical aspect of wine industry/farming also always put front and centered in this manga. One thing that this manga wants to acknowledge to its reader is how wine comes with many variations which might come as the result of different farm, land, or era in which it was produced/cultivated. Moreover it wants to show that there is always a wine for every people, every mood, every occasion.

Well, all in all, the competition and mysterious factor of this manga always makes me curious of what is going to happen next. It almost feel like reading a thriller manga because it makes the reader guess what is the message behind the clue that was given. Also, for a person that never and might never drink wine, i think this manga can be quite the reference to broaden my knowledge to this unknown territory. 



____________________________________________________________________________________


Setelah sebelumnya gw mengulas tentang makanan, masakan, dan bahkan bahan-bahan yang digunakan, sekarang waktunya untuk memilih minuman yang menyegarkan.

Tidak banyak manga di luar sana yang berfokus pada minuman. Yah, sejauh ini gw cuma pernah membaca dua. Untuk manga tentang kopi ada Barista, dan untuk manga tentang wine ada Drops of God.


Ditulis oleh Tadashi Agi dan digambar oleh Shu Okimoto, manga ini adalah campuran dari drama keluarga, passion, kompetisi, kesungguhan dan keuletan, perjalanan dan tentu saja wine. Sebelumnya gw belum pernah mencicipi wine, tapi sepertinya rasanya tidak mungkin se-wah sebagaimana yang mereka deskripsikan di manga ini. Paling tidak rasanya agak tidak mungkin untuk mendapatkan gambaran tentang pekerja dari masa ke masa yang meneruskan pembangunan mahakarya Gaudi ketika kamu menyesap sedikit wine (ya, ini salah satu deskripsi yang didapatkan ketika tokoh utamanya meminum salah satu wine dalam kisah ini).


Kisahnya dimulai ketika seorang kritikus wine kenamaan, Kanzaki Yutaka meninggal dan membuat para pewarisnya untuk mengikuti sebuah tes/kompetisi sebelum mereka dapat mewarisi semua hartanya termasuk di dalamnya sebuah tempat penyimpanan wine dengan koleksi yang sangat komprehensif dan berharga. Mereka harus menebak berdasarkan deskripsi yang dia tuliskan dalam wasiatnya 12 wine yang disebut sebagai 12 Apostles. Kompetisi ini diikuti oleh anaknya yang sudah lama memutuskan ikatan dengannya Kanzaki Shizuku yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan bir dan seorang kritikus wine terkenal lainnya yang bernama Tomine Issei.

Sejauh yang gw baca (sekitar 20 jlid dari total 44 jilid) rasanya ada maksud lain dibalik tes yang dirancang oleh Kanzaki Yutaka. Kebanyakan tantang  yang dia berikan ternyata berfokus pada suatu tahap tertentu dalam kehidupan manusia, dan kehidupannya secara spesifik. Hal tersebut membuat anaknya, yang pada awalnya tidak berminat untuk mengikuti kompetisi tersebut mau ikut serta agar dapat mendapatkan pemahaman yag lebih dalam tentang almarhum ayahnya dan passionnya terhadap wine.

Aspek tekhnis dari industri/perkebunan wine/anggur juga selalu menjadi fokus utama dari manga ini. Satu hal yang ingin disampaikan oleh manga ini kepada pembacanya adalah bagaimana wine memiliki banyak variasi sebagai akibat dari berbagai aspek, seperti tanah, kebun atau era tanam yang berbeda. Lebih jauh lagi manga ini ingin menunjukkan bahwa selalu ada wine yang tepat untuk semua orang, semua suasana, dan setiap kesempatan.

Secara keseluruhan faktor kompetisi dan mister di manga ini selalu membuat gw tertarik akan apa yang terjadi kemudian. Rasanya seperti membaca manga thriller/detektif karena manga ini membuat pembaca menerka-nerka pesan dibalik petunjuk yang diberikan. Selain itu untuk orang yang belum pernah dan mungkin tidak akan pernah meminum wine sebelumnya, gw rasa manga ini bisa jadi referensi untuk memperluas pengetahuan gw di teritori yang tidak gw kenal itu.










Thursday, October 9, 2014

4th Course: Silver Spoon - Reality on a Silver Platter

If before all the mangas that I have reviewed are directly connected to food and cooking directly, this manga might seem to not quite fit into the whole category. Because if others mainly focus on the end product, this one focus more on the ingredients.

http://img1.ak.crunchyroll.com/i/spire1/4dfec651fcd12aa9bc70d8245c0ae8f21351049057_full.png

Just like how unique the theme of this manga is, at first it seems unlikely for this manga to be written by the Hiromu Arakawa who also penned Fullmetal Alchemist. I always get a sense of deeper humanity potential in Fullmetal Alchemist, but it was not after I read Silver Spoon I finally get the full taste of what this mangaka is capable of doing.


Set in an agricultural high school, Silver Spoon tells the story of Yugo Hachiken. A guy who has a quite different motivation compared to other students in his school. Instead of enrolling there out of passion he enrolled there because he is unsure of what to do with his life and want to get away from his parents. Unlike any other mangas, who usually portrays this kind of character as being not too smart, Hachiken is actually a really bright, dilligent, and serious student. But he cannot take the comparison and competition with his brother that made it to Tokyo University.

Other than the family drama, this manga is quite detailed and focused on its agricultural setting. Compared to other manga with farm/agriculture setting that I've read (i.e. Grooming Up). The details comes both in scientific explanation and both emotional description of what might be going through when you are working/living in a farm.

One of the most memorable story so far, is how Yugo struggle with how they eat things they take care of and taking lives of other living creature in general. It is interesting how deep he thinks about it and then come to a decision to honor the life of the lifestock by keeping on eating and making great food out of it instead.

I think it was clever for the author that he chose the character as a normal/outside person with such a specific theme. It made it easier for the reader to relate to what's going on in Hachiken's head when he learns and trying to adapt with the agriculture/farming society.

It might not be a straightforward food manga. But without fancy recipes nor cooking techniques it manages to make me see deeper than what's on the plate, but more of how and where it came from.



 _____________________________________________________________________________


Bila sebelumnya manga-manga yang gw ulas selama marathon ulasan ini berkaitan langsung dengan makanan dan masak-memasak, manga kali ini mungkin tidak sejelas itu terlihat keterikatannya dengan dunia tersebut. Karena jika dibandingkan dengan manga lain  yang lebih berfokus pada 'produk akhir', manga yang satu ini lebih berfokus pada 'bahan mentah'. Lebih dari itu, manga ini sangat detail membahas proses penghasilan bahan mentah tersebut alias agrikultur lebih dalam dari manga-manga lainnya.

Sebagaimana uniknya tema dari manga ini, rasanya semakin aneh ketika gw menyadari bahwa pengarangnya adalah orang yang juga menelurkan Fullmetal Alchemist, Hiromu Arakawa. Di Fullmetal Alchemist memang gw selalu mendapatkan kilasan-kilasan nilai kemanusiaan yang cukup dalam kisahnya, namun baru setelah gw membaca Silver Spoon baru gw menyadari sehebat apa kemampuannya dalam mendalami kehidupan dan emosi manusia.

Berlokasi di sebuah SMK Pertanian/Peternakan, Silver Spoon mengisahkan cerita Yugo Hachiken. Seorang siswa yang masuk ke sekolah tersebut dengan motivasi yang agak berbeda jika dibanding dengan siswa lainnya. Dia sekedar masuk ke SMK tersebut karena tidak yakin dengan masa depannya dan untuk kabur dari orang tuanya. Berbeda dengab manga-manga lain yang biasanya menggambarkan karakter semacam ini sebagai tokoh yang tidak terlalu pandai, Hachiken justru adalah anak yang tekun, serius, dan pintar. Namun dia tidak mau terus-terusan dibanding-bandingkan dan merasa tidak akan pernah menanf dari kakaknya yang berhasil masuk ke universitas Tokyo.

Selain masalah keluarga, manga ini cukup detail dan fokus terhadap tema yang dipilihnya. Dibandingkan dengan manga bersetting peternakan/pertanian lainnya yang pernah gw baca (i.e. Grooming Up). Detail setting tadi banyak dimunculkan dalam penjelasan ilmiah maupun deskripsi emosional tentang apa yang terjadi ketika seseorang menjalano kehidupan di peternakan.

Satu kisah yang paling berkesan sejauh ini adalah bagaiman Hachiken berjuang untuk bisa membiasakan diri memakan hewan yang mereka besarkan dan juga mengambil nyawa makhluk lain pada umumnya. Membaca seberapa dalam dia berfikir dan serius terhadap masalah ini sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan untuk menghargai nyawa dengan mengolahnya dengan baik.

Salah satu pilihan cerdas yang diambil oleh mangaka-nya adalah menjadikan Hachiken yang notabene orang luar/awam sebagai tokoh utama di kisah dengan tema sespesifik ini. Hal tersebut membuat pembaca lebih mudah untuk berempati dengan apa yang Hachiken rasakan ketika dia belajar dan berusaha beradaptasi dengan komunitas peternakan/agrikultur.

Sekali lagi, mungkin ini bukan manga yang jelas-jelas dapat dikategorikan ke dalam manga masakan. Tapi tanpa resep yang mewah ataupun teknik memasak super, manga ini berhasil membuat gw untuk melihat lebih dalam daripada sekedar apa yang dihidangkan di atas piring dan juga bagaimana dan darimana mereka berasal.




 




Wednesday, October 8, 2014

3rd Course : Born To Cook - The New Mr. Ajikko

I think as a 90s kid here in Indonesia you must at least have the chance to enjoy some of the great anime played in local tv. One of them which i recalled as a hot topic in my elementary school was Born to Cook.

 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPsMicqMNZ0QLrbwC8jBlpMBbbwpEjsxdwZ9Qh62055Vf6jpDv5wF2yp3-LlLY9wT9sYqimfEza1YTC53TeyE0c43KPoQLRzBU3JF5kqvQ0unXiGN1fUE8TK9J_SE8Dwpl9NNyva6MleHy/s1600/sssssss.png


This anime which is of course based on a manga is one of the most memorable manga in my childhood. It was not until lately i got the chance to read the manga version when the spin off was published by m&c comics here in indonesia.

Granted, the spin off is just a portion of how extraordinary the original was. I still remember kids reenacting the over the top comment and facial expression mr. Ajikko has after eating yoichi's dish. Still it was good to see this story in a more modern approach and also how the characters turn out as adults.

The food also actually feel like a cooled down version of the old one. But nevertheless still fun to read.

As i've mentioned earlier i only got the chance to read the new version, thus i will based my review on that rather than the old one. Basically the story tells us about how Yoichi grows up, and how his son follow his footsteps on becoming a chef.

The spin off has one major plotline on how mr ajikko has lost his senses and will not budge unless he eat 'moving' great food. This has caused some chaos in the culinary empire he had created. Now him being unable to lead it, his empire is led by his brother and a talented new cook.

To be honest i feel like the story need some extra something most of the time. It just felt like a bit underseasoned at times. But maybe it's just me that cannot stop comparing it with the anime version.

Other than that it is still an entertaining cuisine manga. And i think 90s kids would totally love to see how Yoichi has grown with them, have kids and made it as a great chef while maintaining his idealism.

_____________________________________________


Rasanya semua anak yang tumbuh di Indonesia di tahun 90-an, pasti punya kesempatan yang sama untuk menikmati anime-anime yang diputar di TV lokal. Salah satu diantaranya yang selalu menjadi topik bahasan di SD gw dulu adalah Born To Cook (Mr. Ajikko).

Anime yang tentunya diadaptasi dari manga berjudul sama ini adalah salah satu serial yang paling berkesan dari masa kecil gw. Namun, baru belakangan akhirnya gw berkesempatan untuk membaca versi manganya ketika spin-off (prequel) nya diterbitkan oleh M&C Comics di Indonesia.

Memang sih, spin-off nya cuma sebagian kecil dari betapa heboh kisah aslinya. Gw masih ingat bagaimana dulu teman-teman sekolah gw memeragakan ekspresi-ekspresi aneh Ajiou setelah memakan masakan Yoichi, Namun, tetap saja menarik untuk membaca pendekatan yang lebih modern dan juga bagaimana kelanjutan kisah mereka sebagai orang dewasa.

Masakan-masakan yang ditampilkan juga seperti versi lebih 'normal' dibanding kisahnya yang dulu. Tapi tetap saja manga tentang masakan memang menarik untuk diikuti.

Seperti telah gw tulis sebelumnya, untuk versi komik, gw hanya sempat membaca versi barunya, oleh karena itu review ini akan gw lebih dasarkan pada versi yang baru. Pada intinya manga ini berkisah tentang Yoichi yang kini sudah dewasa dan bagaimana anaknya mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi seorang koki.

Spin-off kisah ini dilatari oleh satu kisah utama dimana Ajiou kehilangan indera pengecapnya dan tidak mau merespon kecuali dia memakan masakan-masakan hebat yang dapat 'menggerakan' dirinya. Hal tersebut menyebabkan kekacauan di perusahaan yang dia pimpin. Dengan ketidakmampuannya untuk memimpin perusahaan, posisi tersebut kemudian diisi oleh adiknya dan seorang koki muda misterius yang berbakat.

Sejujurnya, selama gw membaca manga ini gw merasa kalau manga ini kekurangan 'sesuatu'. Rasanya agak hambar di beberapa episode/adegannya. Tapi mungkin juga itu hanya dikarenakan gw tidak bisa berhenti membandingkannya dengan versi animenya.

Di luar itu, secara keseluruhan manga ini tetap merupakan manga tentang dunia kuliner yang menarik. Anak-anak 90an pasti akan tertarik untuk melihat bagaimana Yoichi tumbuh besar, sudah berkeluarga, dan sukses menjadi koki dengan tetap mempertahankan idealismenya.