When talking about old mangas that had been published in Indonesia in the 90s, Patlabor is another one with a story that may still feel current even for now. Yes, it is about mecha. And yes, it is set in the future. But, different than Evangelion, or Gundam, or Maccross, all of which that was popular in Indonesia in about the same time, the slice of life kinda approach that Patlabor has makes it a lot less distant and possible than all of those other titles. I remember it first came out around my elementary school years, and the mecha is just so cool yet so believable.
At about the same time the anime was also aired in a local tv, and it one of those advantage you have as a 90s kid in Indonesia. Since it was aired in a local tv (well, we don't really have cable at that time) even for a specific kinda anime, you will have friends that also watched it and you can always discuss it at school. Even with the non or not really manga/anime lover. Compared to the condition now, most kids watched animes on cable, bootlegged cd, or online, so I guess everyone may have the different experience.
Well, let just stop there with the nostalgia and rant about how yesterday was better, and back to my Patlabor review :P
Written by Yuuki Masami, what makes Patlabor different is the way that it used a realist approach rather than some in -distant-future-or-planet-sci-fi setting. And more the mechas that are being used in this manga is told to be some kind of new technology, while other settings surrounding the story more or less the same with our condition nowadays. No flying cars, teleportation, aliens, and even not much advance tech being told here. The main difference is the usage of giant robots to help traditional works, mainly police works.
Another thing that set this manga apart is the use of a female character as its lead. Noa Izumi is a tomboy, though, kind, and a bit emotional, in short, quite the normal girl-next-door. Well, the normal girl next door with a fettish for robots actually, but nothing really out of the ordinary.
Other supporting characters in this manga also suit its slice of life kinda tone in the beginning. They have different emphasized characteristics, but with an approachable atmosphere that makes them felt as if they can be real people. Other than Noa, I like the character of group leader, Captain Goto, he's the whimsy yet wise in the inside kinda character that I like.Now that I think of it, this manga is always more about the crew rather than the mechas. It even felt as if the mechas are part of the crew, and not just tools.
On other hand, its fighting scenes are still really good. Its story is still nicely fast paced in some parts, making its felt like a proper action manga, and slow paced in some parts in which it wants to focused on its drama.
It also has a reasonable length compared to mangas nowadays. In all 22 volumes, they have already defeat another advanced mecha, a bio engineered creature, uncover a child trading route and some other side arcs.
The anime spawned a bit and has more arcs compared to the manga. But it never left its realistic approach, and all the things that happened is just another part of the mobile patrol daily job.
With all the premium mangas being republished, I hope this manga get a chance to tell its stories to newer audience too.
*While doing this review, I just found out that a LIVE ACTION movie of Patlabor has just been released last month in Japan. Gotta watch it once its available here and I'll update this review with that version after.
___________________________________________________________________________________
Ketika membicarakan soal manga-manga lama yang terbit di Indonesia di tahun 90-an, Patlabor adalah satu manga yang rasanya masih relevan untuk diceritakan ulang sekarang. Yep, ini adalah komik mecha, dan ya, latar belakang ceritanya adalah di masa depan. Namun berbeda dari Evangelion, atau Gundam, atau Maccross, yang semuanya populer di Indonesia pada sekitar waktu yang bersamaan, pendekatan keseharian yang digunakan oleh patlabor membuatnya terasa lebih nyata dan 'mungkin' dibanding judul-judul lain yang tadi disebutkan. Gw masih ingat Patlabor ini terbit sekitar zaman SD dan gw pada masa itu merasa inilah bentuk robot yang akan benar-benar ada di masa depan.
Pada sekitar waktu yang sama, animenya disiarkan di TV lokal, salah satu kelebihan yang didapatkan sebagai anak tahun 90an di Indonesia. Karena diputarnya di TV lokal (yah, waktu itu memang belum banyak/ada TV kabel di Indonesia) bahkan untuk jenis-jenis anime yang cukup spesifik, pasti ada teman yang juga menonton anime yang sama dan selalu ada kesempatan untuk dibahas di sekolah. Bahkan kita bisa membahasnya dengan anak-anak yang bukan maniak/fans anime. Dibandingkan dengan kondisi saat ini, kebanyakan anak mendapatkan suplai anime dari tv kabel, dvd bajakan atau online, jadi sepertinya semua punya pengalaman yang berbeda.
Yah, sudahlah, stop dengan nostalgia dan curcol gimana dulu itu lebih ok daripada sekarang, dan kembali ke ulasan Patlabor ini :P
Diciptakan oleh Yuuki Masami, yang membuat Patlabor berbeda adalah caranya menggunakan pendekatan yang lebih masuk akal dan nyata dibandingkan dengan setting fiksi ilmiah di-planet-atau-masa-depan-yang-jauh. Bahkan dalam manga ini diceritakan kalau robot-robot yang digunakan termasuk ke dalam teknologi baru pada masa itu, sementara latar belakang cerita tetap menggunakan setting yang sama dan mirip dengan kondisi kita sekarang. Tidak ada mobil terbang, teleportasi, alien, maupun teknologi-teknologi futuristik lainnya. Perbedaan utama dengan kondisi kita sekarang hanyalah penggunaan robot-robot raksasa untuk membantu pekerjaan-pekerjaan tradisional, terutama pekerjaan polisi.
Satu hal lagi yang membedakan manga ini dengan manga lainnya adalah adalah penggunaan tokoh utama wanita. Noa Izumi digambarkan sebagai gadis biasa yang tomboy, baik hati dan sedikit emosional. Satu-satunya hal yang membedakannya dengan gadis lain adalah kecintaannya pada robot.
Tokoh pendukung lainnya di manga ini juga cocok dengan nuansa slice of life-nya. Mereka memiliki karakter-karakter yang sedikit unik, namumn tetap dengan atmosfir yang bikin gw merasa bahwa mungkin saja karakter mereka dimiliki oleh manusia beneran. Selain Noa, salah satu karakter favorit gw adalah Kapten Goto, dia adalah pemimpin unit labor yang agak 'nyeleneh' namun sebenarnya bijaksana. Sekarang kalau gw pikir-pikir lagi, komik ini lebih menitik beratkan ke kisah para kru-nya dibanding dengan kecanggihan mechanya.
Di sisi lain, adegan-adegan pertarungannya tetap seru. Pada beberapa bagian ceritanya tetap mempertahankan tempo yang cepat, membuatnya terasa selayaknya komik action lainnya, namun melambat pada bagian-bagian lainnya ketika kisahnya berfokus pada dramanya.
Secara keseluruhan kisahnya juga tidak terlalu bertele-tele dibanding dengan komik-komik skarang. Dalam 22 jilid, mereka sudah berhasil mengalahkan mecha canggih lainnya, makhluk hasil rekayasa genetika, menyibak misteri perdagangan anak dan kisah-kisah pendukung lain yang tidak kalah seru.
Dibanding komiknya, animenya memiliki lebih banyak kisah sampingan. Namun tetap tidak meninggalkan pendekatannya yang terasa riil, dan membuat penonton merasa bahwa semua kejadian-kejadian yang diceritakan cuma bagian dari keseharian petugas mobile patrol.
Dengan semakin banyaknya komik lama yang diterbitkan sebagai premium, gw harap komik ini juga ikut diterbitkan ulang.
*Waktu review ini ditulis, gw baru baca berita bahwa film LIVE ACTION Patlabor baru saja dirilis bulan lalu di Jepang. Nanti setelah gw berhasil nonton, tulisan ini akan diupdate biar lebih kekinian XD








.jpg)









