Saturday, July 19, 2014

Quick Review: Miman Renai

 


Found this seinen manga by Takashima Hiromi in mangatraders.com as their recommendation a few years ago (obviously before they were hacked -_-;). It was surprisingly sweet and naive for a seinen manga. The image and character’s design are even cuter than Usagi Drops.

The main plot of this manga revolves around the romance between a 29-going on-30 eroge (erotic game) programmer named Kurose Kazumi and a 7th grade middle schooler named Osawa Tomoe. Despite their huuuuge age gap they managed to stay connected and somehow share the same level of innocence.
Eventhought it looks like a typical lolicon/ecchi manga this manga is quite clean (well actually there’s still some nudity since Kurose is working on a erogame developer with a super sexy-boobs boss -_-;) and the story was really innocent n sweet.

My favorite and quotable scene in this manga is when Tomoe was concerned about the fact that she has never been kissed and all her other classmates had done it before then Kurose just said,
You have to be 20 before you can kiss, drink, or smoke
to me it’s just the sweetest line in the whole 5 volumes XD

___________________________________________________________________________________

Gw ga sengaja 'menemukan' manga seinen karya Takashima Hiromi ini di mangatraders.com sebagai rekomendasi mereka beberapa tahun yang lalu (pastinya sebelum mereka kena hack -_-;). Untuk standar seinen manga kisahnya cukup manis dan naif. Bahkan menurut gw karakter dan desainnya lebih cute daripada Usagi Drops.

Plot utama dari manga ini adalah kisah cinta antara seorang cowok berusia 29-hampir 30 tahun programmer eroge bernama Kurose Kazumi dan seorang gadis kelas 1 SMP bernama Osawa Tomoe. Walaupun beda umur mereka cukup jauh tapi entah bagaimana mereka tetap bisa nyambung dan memiliki level kenaifan yang sama.

Dibalik kesannya awalnya yang terlihat seperti komik lolicon/ecchi biasa, namun komik ini sebenarnya cukup 'bersih' dan ceritanya pun cukup sederhana dan manis.

Adegan dan dialog favorit gw di manga ini adalah ketika Tomoe merasa minder karena dia belum pernah dicium sedangkan teman-teman sekelasnya sudah, dan Kurose malah berkata:

  You have to be 20 before you can kiss, drink, or smoke

Buat gw itu adalah adegan termanis di sepanjang 5 volume Miman Renai.


http://i16.mangareader.net/miman-renai/11/miman-renai-1361971.jpg


(Originally this post was published in my tumblr page macchamochi.tumblr.com)

Thursday, July 17, 2014

Yotsuba & ! - Enjoy Everything






image 




Escalators, swings, fireworks, hot air balloons, fresh milk, bicycle, AC, recycling, global warming, elephant, festivals, fishing, flowers, revenge, instant noodles, the beach, almost every thing both simple and complicated are there in this manga. Somehow all of those stuff are written in a happy, joyful way, as the way of how Yotsuba’s mind works.

The story starts as Yotsuba a happy-go-lucky 5 year old girl and his dad (family name Koiwai, first name unknown XD) were moving to a new friendly neighborhood in Japan. Later on the manga it was told that Yotsuba was adopted by his dad when he found her in some foreign country. Yotsuba used to live with his Dad’s mother in a small island in the left (that’s how its been told XD), thus at the new neighborhood she found a lot of new interesting things.

Actually those interesting magical things that Yotsuba see are only ordinary things in everyday life, but this manga shows me that in the eyes of a 5 year old girl, everything is magical :D

I like how the characters in this manga, despite of their comicallity, could still felt like real normal people. People could still easily relate to the personality of the people around Yotsuba, like their neighbors; Ena the curious sweet little girl, Asagi the pretty and cool big sister, Fuuka the smart dilligent girl next door, and their mom a laid back housewife, also her Dad’s friend, Jumbo and Yanda. They also have normal daily conversations, like what food to eat today, which car to buy, what to do, etc, but somehow it all still feels interesting to read since the author makes me want to know more about these ‘normal’ characters. At one point it kinda feels like trying to know your friend or people in our real life, how they feel, how they behave, since they all feel so normal.

One of my favorite and memorable scene is when Yotsuba dealing with global warming at one summer. She’s torn between turning the AC on or off since Ena said it could cause global warming and it’s an evil thing, then Asagi just said,
"Just turn on all the AC, so we can cool the earth down." XD
and that’s it, end of conflict.
Imagine how life would be cool and peaceful if we have a lot of Yotsuba’s and co. in this world XD

__________________________________________________________________________________

Eskalator, ayunan, kembang api, balon udara, susu segar, AC, daur ulang, global warming, gajah, festival, memancing, bunga, mie instan, pantai, balas dendam, hampir semua hal yang rumit maupun sederhana dibahas di komik ini.Entah bagaimana, semua hal di atas bisa dibahas dengan nada yang gembira, dan positif sebagaimana otak Yotsuba bekerja.

Cerita dimulai ketika Yotsuba gadis cilik ceria dan ayahnya (nama keluarga Koiwai, nama panggilan entah XD) pindah ke komplek perumahan baru di Jepang. Di jilid berikutnya dijelaskan bahwa Yotsuba diadopsi oleh ayahnya ketika dia bekerja di suatu negara asing. Tadinya Yotsuba tinggal bersama ibu ayahnya di sebuah 'pulau kecil di sebelah kiri' (yahh itu penjelasannya di komik ini). Disinilah kemudian petualangan Yotsuba dimulai.

Sebenarnya hal-hal yang menjadikan hidup Yotsuba sebagai suatu 'petualangan', adalah benda-benda yang biasa kita temukan sehari-hari. Tapi manga ini menunjukkan bahwa di mata anak berumur 5 tahun semua benda yang biasa tadi bisa jadi menakjubkan XD.

Satu hal lagi keunggulan manga ini adalah bagaimana karakternya, walaupun tetap bersifat komikal, tapi perilakunya tetap berkesan natural. Sehingga pembaca dapat mudah mengasosiasikan sifat-sifat orang-orang di sekitar Yotsuba dengan orang-orang nyata di sekitar kita. Ada Ena si gadis manis yang selalu ingin tahu, kakak-kakaknya; Asagi yang keren dan cantik dan Fuuka yang aktif dan pintar, ibu mereka, seorang ibu rumah tangga yang 'nyantai', juga sahabat-sahabat ayahnya; Jumbo si raksasa berhati sutra dan Yanda si usil.

Tokoh-tokoh ini juga melakukan dialog dengan bahasan yang normal; seperti makan apa hari ini, mobil apa yang bagus, apa rencana hari ini, dll. Namun entah bagaimana manga-kanya bisa membuat bahasan-bahasan yang normal itu menjadi menarik dan membuat gw ingin terus tahu lebih banyak tentang karakter-karakter yang 'normal' ini. Di satu titik rasanya seperti sedang mencoba untuk mengenal teman atau orang di kehidupan nyata. Bagaimana sifat mereka, kebiasaan mereka. Semua karena nuansa 'normal' tersebut.  

Salah satu adegan favorit gw dan paling gw inget adalah ketika Yotsuba sedang menghadapi dillema global warming di suatu musim panas.
Dia bingung apakah dia boleh menyalakan AC karena Ena bilang bahwa itu bisa menyebabkan global warming, dan itu adalah hal yang buruk. Tapi kemudian Asagi datang dan bilang,
"Nyalakan saja AC-nya, supaya kita bisa mendinginkan bumi"
 dan begitu saja masalah terpecahkan XD

coba bayangkan betapa nyantai dan damainya hidup seandainya ada banyak Yotsuba dan kawan-kawan di dunia ini :)




 image


(Originally this post was published in my tumblr page macchamochi.tumblr.com)

Tuesday, July 15, 2014

Twin Spica - dreams vs reality


After my last post,  i promised i would review a girl's manga after reviewing shonen all this time, unfortunately that post will still have to wait XD





Well it's not like Twin Spica is either one anyway. You can consider it as a shoujo manga since it has a female lead, somehow cute characters, high school friendship, love triangles, etc. But on the other hand the romance and the dramatization it has felt more like it was based on a guy's perspective.

I always have a soft spot for mangas with space/astronaut theme especially ones with a reallistic approach, from Planetes to now Twin Spica. If Planetes has a more distant future in which our existence outside earth has been fully established, then the setting in Twin Spica is set at an earlier era. Where space is still a dream, not much different than our world now.

Twin Spica told the story of a literally little girl with a huge dream of being an astronaut. Lots of drama here and there since the tragic back story tells about an spaceship crash which caused many dies including her mother and moreover a lot of people's dreams.

Here i won't review much about the story but more of a scene in the 10th volume published by Elex Media.






The dialogue between Asumi (the lead) and her imaginary/ghost-astronaut-friend Lion was really inspiring. It just made a lot of sense and made me realized a lot of things. Unlike little Miss Kamogawa, I was never focused enough and always has a 'plan b' or a reroute track in mind in case things do not work out.

Well i think a lot of humans do, since adaptation and  fight or flight sense is embedded in our system for survival. Unfortunately those notions can be translated to compromising our dreams, compromising with life, or even worse giving up.

It took me this 3 pages scene to realize how much i've been compromising in my  life and how i never really focused and committed with my goals. Basically it is the cause of most unsatisfaction since it makes me feel as if i never achieve anything great. At least not great enough to be considered as dreams.

On the other hand, it is very unreallistic not to compromise. Since we do not life alone in this planet. Everyone has a say in our life and how we life it. Everything is connected and any thing we do may affect others. But still people need big dreams to look forward to. At least it will give you hope.

As an old proverb said dream high, aim for the moon if you fall at least you will fall among the stars
(even if it is wrong since stars are further than moon...).

So now, without putting any compromise in the equation, what is my dream?

 What is yours?

___________________________________________________________________________________


Di postingan gw yang terakhir, gw sempet janji untuk mereview manga cewe/shoujo setelah selama ini selalu mereview komik cowok/shonen/seinen. Sayangnya, membuktikan apa yang nanti akan gw elaborasi lebih lanjut, gw ga bisa komit dengan janji itu XD

Yah, Twin Spica sendiri tidak sebenarnya tidak bisa diklasifikasikan menjadi salah 1 genre begitu saja. Manga ini bisa dianggap sebagai shoujo karena tokoh utamanya yang perempuan, desainnya yang tergolong cukup imut, kisah persahabatan dan cinta segitiganya, dll. Namun di sisi lain romansa dan dramatisasi yang ada di manga ini terasa didasarkan pada lebih didasarkan pada perspektif pria secara penulisnya pun pria yang berdasar manga stripnya cukup sensitif dan melankolis.

Gw memang selalu punya soft spot untuk manga-manga dengan tema-tema ruang angkasa atau tokoh-tokoh astronot, terutama yang punya sens slice of life dan terasa nyata, seperti Planetes dan Twin Spica.Bila setting Planetes lebih ke arah masa depan yang benar-benar masih di masa depan ketika manusia sudah berhasil membentuk koloni di luar angkasa, setting yang digunakan dalam Twin Spica terasa seperti prekuelnya. Ketika ruang angkasa masih sebatas angan-angan, dan tidak terlalu berbeda dengan kondisi kita sekarang.

Twin Spica mengisahkan cerita tentang seorang gadis kecil (secara ukuran) dengan mimpi yang besar yakni ingin menjadi seorang astronot. Kisah ini penuh dengan drama karena dilatarbelakangi oleh tragedi kecelakaan pesawat luar angkasa yang menewaskan banyak orang termasuk  ibunya dan juga mimpi banyak orang.
 
Di sini gw tidak akan mengulas terlalu banyak tentang ceritanya namun akan lebih berfokus pada sebuah adegan di jilid 10 Twin Spica yang diterbitkan oleh Elex Media.




Dialog antara Asumi (tokoh utama) dengan sahabat khayal/hantu astronot Lion sangat inspiratif. Dialog ini membuat gw sadar akan banyak hal. Tidak seperti nona Kamogawa yang mungil, gw tidak pernah sefokus itu dan selalu punya 'rencana lain' atau 'jalur pindah haluan' di otak gw sekiranya mimpi-mimpi gw tidak berjalan dengan baik.

Yah, sepertinya hampir semua manusia seperti itu deh, karena pada dasarnya kemampuan adaptasi dan sens untuk 'menghadapi atau menghindar' sudah terprogram dalam sistem kita agar kita bisa tetap survive. Sayangnya kadang-kadang kemampuan ini bisa mengakibatkan kita terlalu berkompromi dalam mencapai impian, berkompromi dalam mencapai mimpi, dan bahkan lebih parah menyerah sebelum mencoba.

Butuh adegan 2 halaman ini bagi gw untuk menyadari seberapa banyak gw sudah berkompromi dan betapa gw tidak pernah benar-benar fokus dan memegang komitmen untuk mencapai cita-cita. Sebenarnya mungkin inilah alasan dari berbagai ketidakpuasan karena tanpa mencoba atau mencoba asal-asalan bikin gw merasa seolah gw tidak pernah mencapai tujuan gw. Paling tidak apa yang gw capai bukan sesuatu yang sebegitu keren/besarnya sampai bisa dianggap sebagai impian.

Di sisi lain, tidak realistis juga untuk tidak berkompromi sama sekali. Secara kita tidak hidup sendirian di planet ini, semua orang bebas berpendapat dan mempengaruhi hidup kita dan bagaimana kita menjalani hidup. Semuanya terhubung dan hal sekecil apapun yang kita lakukan juga bisa  mempengaruhi orang lain. Namun, manusia butuh mimpi yang besar untuk bisa berpandangan ke depan. Paling tidak impian bisa memberikan harapan.

Sebagaimana kata pepatah, bermimpilah setinggi-tingginya, sasarlah bulan, setidaknya bila terjatuh, kamu akan terjatuh di antara bintang...
(walaupun sebenarnya pepatah ini salah karena bintang itu lebih jauh dari pada bulan -_-;)


Jadi sekarang, tanpa mempertimbangkan kompromi, apa ya impian gw?


Apa impianmu?



(manga pages are scanned from my personal collection of the Indonesian version of Twin Spica & used for personal use only)